rumus matematika :
Jumat, 26 April 2013
Doa-Doa Sekitar Pernikahan
Artinya:"Segala puji bagi Allah dan shalawat dan dalam untuk utusaan-Nya, aku mengaku bahwasannya tak ada Tuhan yang disembah melainkan Allah sendiri-Nya tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya mengaku bahwasanya Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya. Saya datang kepada tuan-tuan karena menghendaki gadu tuan, yakni si Anu, atau saudara tuan, si Pulan anak si Pulan. "
Penjelasan:
Doa ini dibaca oleh seseorang yang akan melamar (meminang) perempuan, yaitu dibaca sebelum berbicara apa-apa. Demikian Al-Nawawi menjelaskannya.
Artinya: "Segala puji bagi Allah, kami meminta pertolongan kepada-Nya dan kami Meminta ampunan kepada-Nya. Kami berlindung dengan Allah dari kejahatan diri kami. Barangsiapa ditunjuki Allah, tiadalah ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan Allah, tiadalah ada yang dapat menunjukinya. Saya akui bahwasanya tak ada Tuhan melainkan Allah sendirinya. Tak ada sekutu bagi-Nya. Saya akui bahwasanya Muhammad itu hamba-Nya dan Rasul-Nya. Wahai segala manusia, berbaktilah kepada Tuhan yang telah menjadikan kamu dari suku yang satu, dan menjadikan dari suku yang satu itu pasangannya, dan menghamburkan dari dua sepasang itu banyak lelaki dan perempuan. Dan berbaktilah kepada Allah yang kamu bertanya-menanya dengan Dia dan berbaktilah kepada segala rahim-rahimmu, bahwasanya Allah itu senantiasa menjadi pengintip atas dirimu, "Wahai segala mereka yang beriman berbaktilah kepada Allah dengan secukup-cukup bakti, dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan kamu menyerah diri kepada Allah. Wahai segala mereka yang beriman berbaktilah kepada Allah, dan bertuturlah dengan tutur yang benar, supaya diperbaiki untukmu segala amalanmu dan supaya diampunkan untukmu segala dosamu, dan barangsiapa menta'ati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia memperoleh kemenangan yang besar. "
Penjelasan :
Doa ini dibaca ketika akan mengakadkan pernikahan, atau disebut juga doa ini sebagai khutbah nikah.
Hal ini pula yang diajarkan Nabi Saw. kepada para sahabatnya Demikian menurut riwayat Abû Dâud, Al- Turmudzi, Al-Nasâ'i, dan Ibnu Majah.
Artinya: "Mudah-mudahan Allah memberi berkat untukmu dan mengumpulkan kamu berdua dalam kebajikan. "
Penjelasan :
Doa ini dibaca ketika kita mengunjungi orang yang baru kawin. Imam Abû Dâud meriwayatkan, Nabi apabila mendatangi seseorang sahabat yang baru kawin, ia mengucapakan doa ini kepadanya. Hal ini terjadi ketika ' Abdu ar-Rahman bin' Auf mengabarkan kepada Nabi Saw., bahwa ia telah menikah, kemudian Nabi Saw. mengucapkan doa ini, demikian dalam riwayat Al-Bukhârî.
Artinya: "Mudah-mudahan Allah memberkati untuk masing-masing kita terhadap, sahabatnya "
Penjelasan:
Doa ini juga dibaca ketika mengunjungi orang yang sedang nikah, atau baru nikah
Artinya: "Mudah-mudahan Allah memberkati untuk masing-masing kita terhadap sahabatnya.
Penjelasan:
Doa ini dibaca oleh suami kepada isterinya, yaitu ketika selesai akad nikah, dan si suami akan bertemu dengan isteri, maka doa ini dibaca.
Setelah itu si suami boleh juga menambah bacaan dengan doa dibawah ini:
Artinya: "Wahai Tuhanku, aku memohon kepadamu kebajikannya dan kebajikan thabi'atnya;. dan aku berlindung kepadamu dari kejahatannya dan kejahatan thabi 'atnya.
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, wahai Tuhanku, jauhkanlah kami dari syaithan dan jauhkanlah syaithan dari rezeki yang, Engkau berikan kepadanya. "
Penjelasan :
Doa ini dibaca ketika pasangan suami isteri akan berjima (berhubungan). Al-Bukhârî menjelaskan, Nabi Saw. bersabda: "Sekiranya salah seorang kamu mendekati isterinya (menjima isterinya) seraya membaca doa ini, lalu berhasillah dengan jima itu seorang anak, niscaya anak itu tidak dapat dimadharatkan syaithan. "
Artinya:"Betapa engkau dapati ahlimu, mudah-mudahan Allah memberi berkah kepadamu. "
Penjelasan:
Doa ini dibaca isteri kepada suaIni setelah suami mendukhulnya (bersenggama). Dalam riwayat Al-Bukhârî dijelaskan: bahwa Nabi Saw. setelah memasuki kamar Zainab beliau menemui 'Aisyah. Maka setelah salam (bersalaman), Aisyah mengucapakan doa ini. Semua isteri Nabi melakukannya.
http://pustaka.abatasa.co.id/pustaka/detail/doa/allsub/109/doa-doa-pilihan-2.html
Kamis, 25 April 2013
Hadis-hadis Bermasalah Menurut KH. Ali Mustafa Yaqub
searching2 internet .... dapet lagi nih ilmu.....
Hadis palsu ada kalanya populer di
masyarakat, bahkan menjadi dasar amalan ibadah mereka yang kurang jeli dan
tidak memperhatikan keotentikan suatu hadis. Untuk menyikapi permasalah
tersebut, maka Ali Mustafa Yaqub menyusun
sebuah buku yang membahas kelemahan-kelemahan yang terdapat pada hadis-hadis
palsu populer di masyarakat tetapi setelah diadakan penelitian ternyata hadis
tersebut bermasalah, dalam arti lemah bahkan sangat lemah.
Beberapa hadis palsu tersebut,
yaitu.
Hadis palsu "Mencari Ilmu
di Negeri Cina"
Para ulama hadis menurut Ali seperti
yang ia kutip dari al-Albani dalam kitabnya Silsilah al-Ahadis al-Dha’ifah
wa al-Maudhu’ah. mereka sepakat bahwa Abu ‘Atikah Tarif bin Sulaiman
tidak memiliki kredibilitas sebagai rawi hadis. Imam Ahmad bin Hanbal juga
menentang keras hadis itu. Artinya ia tidak mengakui bahwa ungkapan itu
sebagai hadis Nabi saw, atau termasuk hadis palsu
Menurut Ali, hadis palsu tersebut
juga ditulis kembali oleh Ibn al-Jauzi dalam kitabnya al-Maudhu’at.
Kemudian al-Suyuti dalam kitabnya al-La’ali al-Mashnu’ah fi al-Ahadis
al-Maudhu’ah mengatakan bahwa di samping sanad di atas, hadis tersebut
memiliki tiga sanad lain.
Namun, ternyata tiga sanad yang
dimaksud oleh al-Suyuti tersebut tidak mengubah kedudukan hadis yang diteliti
ini, karena sanad yang disebutkan al-Suyuti semuanya lemah. Bahkan justeru
memperkuat kepalsuannya, seperti yang dikutip Ali dari Muhammad Nashir al-Din
al-Bani. Al-Bani mengatakan bahwa catatan al-Suyuti itu laisa bi syai’in
(tidak ada artinya).
Sebagai kesimpulan terakhir, Ali
mengatakan bahwa ungkapan “carilah ilmu meski di negeri Cina”, adalah hadis
palsu, dan boleh jadi hanya semacam kata-kata mutiara, karena konon negeri Cina
pada waktu itu sudah dikenal memiliki budaya yang tinggi, kemudian lambat laun
ungkapan itu disebut-sebut sebagai hadis.
Hadis palsu "Bekerja
Untuk Dunia Seakan Hidup Selamanya"
Hadis ini cukup populer di kalangan
masyarakat. Hadis palsu tersebut adalah sebagai berikut:
اعمل لدنيا ك كا نك تعيش ابدا واعمل
لأخرتك كانك تموت غدا
Menurut Ali dalam beberapa sumber,
hadis tersebut ditemukan sanadnya, dan tidak sampai kepada Nabi saw, tetapi
kepada seorang sahabat yang bernama ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, seperti
yang telah ia kutip dari al-Bani. Hadis yang hanya bersumber dari sahabat
secara umum tidak bisa dikategorikan sebagai hadis, sebab yang disebut hadis
adalah sesuatu yang bersumber dari Nabi saw, baik berupa ucapan, perbuatan,
persetujuan maupun sifat-sifat beliau.
Ali mengatakan bahwa, setelah
diketahui ungkapan tersebut bukan hadis Nabi saw, maka sebenarnya tidak perlu
lagi diteliti apakah ia memiliki otentisitas sebagai hadis Nabi. Menurut Ali,
hadis palsu ini tidak perlu dibahas terlalu jauh.
Hadis palsu "Wanita Tiang
Negara"
Hadis yang dimaksud, bunyinya
sebagai berikut:
المراة عماد البلا د اذا صلحت صلحت
البلا د واذا فسدت فسدت البلا د
“wanita adalah tiang Negara, apabila
wanita itu baik maka Negara akan baik, dan apabila wanita itu rusak, maka
Negara akan rusak pula”
Ali telah mencoba membuka
kitab-kitab hadis, khususnya kitab hadis masyhur, seperti al-Maqashid
al-Hasanah karya al-Sakhawi (w. 906 H.), al-Durar al-Muntatsirah karya
al-Suyuti (w. 911 H.), al-Ghammaz ‘ala al-Lammaz karya al-Samhudi (w.
911 H.), Tamyiz al-Tayyib min al-Khabits karya Ibn Daiba’ (w. 944 H.), Asna
al-Mathalib karya Muhammad Darwisy al-Hut (w. 1276 H.), Kasyf al-Khafa’
wa Muzil al-Ilbas karya al-‘Aljuni (w. 1162 H.) dan lain-lain. Ternyata ia
tidak menemukan hadis tersebut. Demikian pula dalam kitab-kitab hadis yang
lain, seperti al-Kutub al-Sittah.
Karenanya untuk sementara ia
berkesimpulan bahwa ungkapan di atas, adalah hadis palsu. Ia tidak lebih dari
sekedar kata-kata hikmah yang diucapkan oleh seorang tokoh atau ulama.
Hadis palsu "Tidurnya
Orang Berpuasa Ibadah"
Menurut Ali Mustafa Yaqub, hadis
yang disebut-sebut di atas layaknya merupakan hadis populer karena banyak orang
mengetahuinya. Namun ternyata hadis tersebut tidak tercantum dalam kitab-kitab
hadis populer.
Dalam sanad hadis tersebut terdapat
nama-nama seperti Ma’ruf bin Hasan, seorang rawi yang lemah, dan Sulaiman bin
Amr al-Nakha’i, seorang rawi yang lebih lemah dari Ma’ruf. Bahkan menurut
al-Iraqi, Sulaiman adalah seorang pendusta. Demikian yang dikutip oleh Ali dari
Muhammad Abd al-Ra’uf al-Minawi dalam kitabnya Faidh al-Qadir.
Menurut al-Suyuti, kualitas hadis
ini adalah dha’if. Bagi orang yang kurang memahami tentang Ilmu Hadis,
pernyataan al-Suyuti ini dapat menimbulkan salah paham, sebab menurut Ali,
hadis dha’if itu secara umum masih dapat dipertimbangkan untuk
pengamalannya. Sedangkan hadis maudhu, matruk dan munkar tidak
dapat dijadikan dalil untuk beramal sama sekali, meskipun sekedar motivasi
untuk berbuat kebajikan.
Hadis palsu "Siapa
Menghendaki Dunia atau Akhirat ia Wajib Berilmu"
Hadis palsu tersebut, terjemahannya
adalah:
Siapa yang menghendaki dunia, ia
harus berilmu. Siapa yang menghendaki akhirat, ia juga harus berilmu. Dan siapa
yang menghendaki dunia dan akhirat ia juga harus berilmu.
Ternyata Ali, tidak menemukan hadis
tersebut dalam kitab-kiab hadis. Ungkapan seperti itu justeru ia temukan dalam
kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhaddzab karya Imam al-Nawawi (w. 676 H.)
dalam juz awal halaman 12, dan ternyata ungkapan tersebut bukanlah hadis Nabi
saw, melainkan ucapan Imam al-Syafi’I (w. 204 H.). Ungkapan tersebut
selengkapnya adalah sebagai berikut:
قا ل رحمه الله طلب العلم افضل من
صلاة النا فلة وقال: من اراد الد نيا فعليه بالعم ون اراد الآخرة فعليه بالعلم
Imam Syafi’ rahimahullah
berkata”Mencari ilmu itu lebih utama daripada shalat sunnah. Ia juga berkata,
siapa yang menghendaki dunia ia harus berilmu, dan siapa yang menghendaki
akhirat ia harus berilmu”.
Hadis palsu "Cinta Tanah
Air Sebagian dari Iman"
Hadis ini dinilai oleh sementara
orang sebagai suatu yang dapat menumbuhkan semangat patriotism dan menyuburkan
rasa kebangsaan. Karenanya ia sering disebut-sebut dalam upacara untuk
menggugah semangat patriotism dan kebangsaan.
Ungkapan tersebut teksnya adalah
sebagai berikut:
حب الوطن من الإيمان
Menurut penelusuran Ali, bahwa
al-Suyuti mengomentari hadis tersebutlam aqif ‘alaih
(saya tidak menemukannya). Begitu pula Imam al-Sakhawi juga mengatakan seperti
itu, meskipun menurutnya substansi hadis itu, bukan hadis palsu, melainkan
hadis shahih.
Namun pendapat al-Sakhawi ini
langsung disanggah oleh Ali al-Qari, yang mengatakan bahwa makna dan substansi
hadis itu sebagai hadis shahih, sangat aneh, sebab tidak ada kaitan antara
cinta tanah air dengan iman. Dan bagaimanapun juga menurut Ali, sekiranya
substansi ungkapan itu shahih, maka hal itu juga tidak akan merubah status
ungkapan tersebut menjadi sebuah hadis shahih. Ia tetap saja menjadi hadis
palsu apabila dinisbahkan kepada nabi saw. Karenanya ungkapan-ungkapan yang
bersubstansi baik atau shahih, seyogyanya disebut saja sebagai kata-kata hikmah
atau kata-kata mutiara, agar kita selamat dari ancaman neraka.
Hadis palsu "Orang Yang
Mengenal Dirinya Ia Mengenal Tuhannya"
Adapun redaksi dari hadis palsu
tersebut adalah sebagai berikut:
من عرف نفسه عرف ربه
Menurut Ali, sumber lain menuturkan
bahwa ungkapan itu adalah ucapan Sa’id al-Kharraz. Karenanya, apabila ungkapan
itu dinisbahkan kepada Nabi saw, maka ungkapan itu menjadi hadis palsu.
Namun, meskipun para ahli hadis
telah menetapkan bahwa hadis tersebut palsu, tetapi sebagian kaum sufi tetap
memandang bahwa hadis itu shahih. Ibn al-Ghars menuturkan, bahwa kitab-kitab
tasawuf sangat sarat dengan hadis ini. Kaum sufi itu seperti Syekh Muhyi
al-Din bin al-‘Araby dan lain-lain memposisikan ungkapan tersebut sebagai
hadis. Bahkan ada yang menuturkan, bahwa Syekh Muhyi mengatakan bahwa, meskipun
tidak shahih dari segi riwayat, namun bagi mereka hadis itu shahih berdasarkan
metode kasyf.
Hadis palsu "Tidak Makan
Kecuali Lapar"
Hadis yang dimaksud, teksnya sebagai
berikut:
نحن قوم لا نكل حتي نجوع واذا اكلنا
لا نشبع
Namun setelah Ali meneliti lagi,
ternyata ia menemukannya dalam kitab al-Rahmah fi al-Tibb wa al-Hikmah,
karya Imam al-Suyuti. Dan ternyata ungkapan tersebut bukanlah sebuah hadis,
melainkan ucapan seorang dokter ahli dari Sudan.
Hadis palsu "Ramadhan
Setahun Penuh"
Hadis yang dimaksud teksnya adalah
sebagai berikut:
عن ابن عباس رضي الله عنهما انه قال:
سمعت رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول : لو تعلم امتي ما في رمضان لتمنوا ان
تكون السنة كلها رمضان.
Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata:”Saya
mendengar Rasulullah saw. Bersabda: “Seandainya umatku mengetahui pahala ibadah
bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar satu tahun penuh menjadi
Ramadhan semua”.
Hadis dengan teks seperti ini kata
Ali, terdapat antara lain dalam kitab Durrah al-Nashihin karya Utsman
al-Khubbani. Sebuah kitab yang berisi petuah-petuah untuk beribadah, namun
dituding oleh banyak orang, khususnya ahli hadis, sebagai kitab yang banyak
berisi hadis palsu dan kisah-kisah imajinasi.
Menurut Ali, hadis yang dinukil oleh
Utsman al-Khubbani itu merupakan penggalan dari hadis yang sangat panjang, yang
diriwayatkan oleh antara lain Imam Ibnu Khuzaimah (w. 311 H.) dalam kitabnya Shahih
Ibnu Khuzaimah, Imam Abu Ya’la, Imam al-Baihaqy dalam kitabnya Syu’ab
al-Iman dan Imam Ibnu al-Najjar. Kemudian juga dinukil oleh Imam
al-Mundziri (w. 656 H) dalam kitabnya al-Targhib wa al-Tarhib.
Teks aslinya seperti tertulis dalam
kitab Shahih Ibn Khuzaimah adalah sebagai berikut:
عن ابن مسعود عن النبي صلي الله عيه
وسلم- وهذا حديثث ابي الخطاب- قال: سمعت رسول الله صلي الله عليه وسلم ذات يوم وقد
اهل رمضا ن فقال : لو يعلم العباد ما في رمضان لتمنت امتي ان تكون السنة كلها.فقا
ل رجل من خزا عة يا نبي الله حدثنا فقا ل: ان الجنه لتزين لرمضان من راس الحول الي
الحول فاذا كان اول يوم من رمضان هبت ريح من تحت العرش فصفقت ورق الجنة فتنظر
الحور العين الي ذالك فقلن يا رب اجعل لنا من عبادك في هاذا الشهر ازواجا تقر
اعيننا وتقر اعينهم بنا قال: فما من عبد يصوم يوما من رمضان الا زوج زوجة من الحور
العين في خيمة من درة مما نعة الله (حور مقصورات في الخيام) علي كل امراة سبعون
حلة ليس منها حلة علي لون الاخري تعطي سبعين لونا من الطيب ليس منه لون علي ريح
الاخري. لكل امراة منهن سبعون الف وصيفة لحا جتها وسبعون الف وصيف مع كل وصيف مع
كل وصيف صفة من ذهب فيها لون طعام تجد لاخري لقمة منها لذة لا تجد لاوله. لكل امرة
منهن سبعون سرير سبعون فراشا بطاءنها من استبرق فوق كل فراش سبعون اريكة ويعطي
زوجها مثل ذالك علي سرير من ياقوت احمر موشع بالدر عليه سواران من ذهب هذا بكل يوم
صامه من رمضان سوي ما عمل من الحسنات.
Setelah diadakan penelitian,
ternyata hadis di atas dinyatakan positif hadis palsu. Kepalsuan itu menurut
Ali, bukan lantaran adanya kejanggalan makna, karena hal itu hanyalah salah
satu tanda saja, melainkan karena adanya rawi yang bernama Jarir bin Ayyub
al-Bajali dalam setiap sanadnya, dimana Jarir bin Ayyub ini diklaim oleh para
kritikus hadis sebagai pemalsu hadis. Karenanya hadis-hadis yang ia riwayatkan
disebut hadis palsu, atau minimal matruk dan munkar.
MAU YANG LEBIH LENGKAP :
Amal yang Pahalanya Tidak Terputus
Belajar itu asik
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika
seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga
perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak
yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
Allah memberi ganjaran sekecil apa pun amal yang kita perbuat. Meski hanya sebesar dzarrah atau debu:
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya
seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar
zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari
sisi-Nya pahala yang besar” [An Nisaa' 40]
Setiap
kebaikan yang kita lakukan mulai dari kewajiban seperti sholat, puasa,
zakat hingga amal yang sunnah insya Allah akan dibalas Allah pahala yang
berlipat ganda.
Bahkan ada orang yang karena mampu setiap
tahun pergi berhaji atau umrah dengan berharap mendapat pahala yang
besar. Sesungguhnya itu baik. Namun sayangnya saat kita meninggal, kita
tidak akan mendapat pahala itu lagi. Saat kita mati, terputus amal kita
selain 3 amal yang di atas.
Oleh karena itu agar pahala kita terus
mengalir meski kita telah tiada, hendaknya kita berusaha mengerjakan 3
amal yang di atas. Bagaimana pun kita tidak tahu berapa banyak dosa atau
maksiyat yang telah kita perbuat. Berapa banyak orang yang kita sakiti.
Jadi kalau pahalanya pas-pasan, bisa jadi akhirnya kita terjerembab ke
neraka jahannam.
Sedekah Jariyah
Menurut Imam al-Suyuti (911 H) ada 10
amal yang pahalanya terus menerus mengalir, yaitu: 1) ilmu yang
bermanfaat, 2) doa anak sholeh, 3) sedekah jariyah (wakaf), 4) menanam
pohon kurma atau pohon-pohon yang buahnya bisa dimanfaatkan, 5)
mewakafkan buku, kitab atau Al Qur’an, 6) berjuang dan membela tanah
air, 7) membuat sumur, 8) membuat irigasi, 9) membangun tempat
penginapan bagi para musafir, 10) membangun tempat ibadah dan belajar.
Itu hanya contoh kecil saja. Tentu saja
sedekah jariyah tidak terbatas pada hal yang di atas. Segala hal yang
bermanfaat yang bisa dinikmati masyarakat umum seperti membangun jalan,
jembatan, website atau TV yang bermanfaat insya Allah pahalanya akan
terus mengalir kepada kita selama yang kita bangun itu masih memberikan
manfaat.
Menanam pohon mangga atau pohon kurma
sehingga buahnya bisa dinikmati atau pun pohon yang rindang seperti
pohon Beringin sehingga orang bisa berteduh pun bisa mendapatkan pahala.
Membangun masjid pun pahalanya amat besar dan tetap akan mengalir selama masih ada orang yang memakainya untuk beribadah:
Hadits riwayat Usman bin Affan
ra: ”Barang siapa yang membangun sebuah masjid karena mengharapkan
keridhaan Allah SWT, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di
surga. (H.R Bukhari dan Muslim)
Ilmu yang Bermanfaat
Ilmu akan bermanfaat jika kita sendiri
terlebih dahulu mengamalkannya. Kemudian kita ajarkan ke orang lain.
Jika orang yang kita ajarkan itu juga mengamalkan ilmunya, insya Allah
kita akan mendapat pahala meski kita telah tiada.
Kita bisa menjadi guru, dosen, atau mendirikan sekolah/pesantren sehingga ilmu yang bermanfaat bisa diajarkan ke orang banyak.
Di zaman sekarang ini kita bisa
mengajarkan ilmu ke banyak orang sekaligus. Dengan membuat buku yang
bermanfaat, kita dapat membayangkan bagaimana kalau ada 1 juta orang
yang membaca buku tersebut dan mengamalkannya.
Dengan membuat website yang berisi ilmu
yang bermanfaat misalnya website Islam sehingga puluhan ribu orang bisa
membaca dan mengamalkan ilmunya, insya Allah juga akan mendapat pahala.
Jika ada orang yang meng-copy-paste tulisan anda, jangan sedih. Justru
mereka membantu menyebarkan ilmu anda sehingga jika website anda tutup
karena anda tidak membayar sewa domain atau hosting, ilmu anda tetap
tersebar dan dinikmati orang lain.
Mendirikan TV Islam atau TV Komunitas yang bisa memberikan ilmu yang bermanfaat pun insya Allah akan mendapat pahala.
Bagaimana jika kita bukan orang yang
pintar atau ilmu kita cetek? Jangan sedih. Dengan membantu ulama
sehingga ilmunya tersebar, membantu penerbitan buku yang bermanfaat,
membantu pembuatan dan pemeliharaan website atau TV Islam juga bisa
membuat anda ikut mendapat pahala. Karena Allah menghitung setiap amal
yang kita lakukan sekecil apa pun amal itu!
“…Dan tolong-menolonglah kamu
dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong
dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah,
sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Al Maa-idah 2]
Rasulullah saw. bersabda:عن أبي موسى الأشعري ـ رضي الله عنه ـ عن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قال : ” المؤمن للمؤمن كالبنيان ، يشد بعضه بعضاً ، ثم شبك بين أصابعه ، وكان النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ جالساً ، إذ جاء رجل يسأل ، أو طالب حاجة أقبل علينا بوجهه ، فقال : اشفعوا تؤجروا ، ويقضي الله على لسان نبيه ما شاء ” . رواه البخاري ، ومسلم ، والنسائي
Dari Abu Musa Al Asy’ari ra. dari Nabi Muhammad saw bersabda:
“Orang mukmin itu bagi mukmin
lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.
Kemudian Nabi Muhammad menggabungkan jari-jari tangannya. Ketika itu
Nabi Muhammad duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki meminta bantuan.
Nabi hadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Tolonglah dia, maka
kamu akan mendapatkan pahala. Dan Allah menetapkan lewat lisan Nabi-Nya
apa yang dikehendaki.” Imam Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i.
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjukkan
kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat
pahala seperti orang yang melakukannya. [HR Muslim, 3509].
Jadi jika kita turut andil dalam menyebarkan ilmu yang bermanfaat, insya Allah, Allah akan melihatnya.
Anak Soleh yang Mendoakannya
Jika kita punya anak soleh yang mendoakan
kita, insya Allah kita akan mendapat pahala juga karena kita telah
berjasa mendidik mereka sehingga jadi anak yang saleh.
Oleh karena itu jika kita diamanahi anak
oleh Allah, hendaknya kita didik mereka sebaik mungkin hingga jadi anak
yang saleh. Seorang ibu jangan ragu untuk meninggalkan pekerjaannya di
kantor agar bisa fokus mendidik anaknya.
Lalu bagaimana jika kita tidak punya anak kandung?
Di situ tidak dijelaskan apakah anak
saleh itu anak kandung atau bukan. Jadi jika kita memelihara anak yatim
pun kita tetap akan dapat pahala jika mereka jadi anak yang saleh dan
mendoakan kita.
Dari Abu Ummah, bahwa Rasulullah
SAW bersabda: “Barang siapa yang membelai kepala anak yatim karena Allah
SWT, maka baginya kebaikan yang banyak daripada setiap rambut yang
diusap. Dan barang siapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan
dan lelaki, maka aku dan dia akan berada di syurga seperti ini,
Rasulullah SAW mengisyaratkan merenggangkan antara jari telunjuk dan
jari tengahnya.” (Hadis riwayat Ahmad)
Dari situ jelas bahwa orang yang
memelihara anak yatim dengan penuh kasih sayang insya Allah akan masuk
surga. Surganya pun bukan surga tingkat rendah. Tapi surga tingkat
tinggi karena berada di dekat Nabi Muhammad SAW laksana jari telunjuk
dengan jari tengah.
Paling tidak jika ada anak dari saudara kita atau sepupu kita, santuni mereka. Bantu mereka.
Menyumbang ke keluarga miskin yang ada anaknya pun atau panti asuhan insya Allah bisa mendapatkan pahala.
Referensi:
Selasa, 23 April 2013
Anjuran Saling Mendoakan
Setelah membaca artikel ini... terserah kalian pula untuk melakukannya.... karena ini sesuai dengan keinginan kalian dan pendapat kalian... dan artikel ini juga belum tentu kalian percayai benar adanya karena kalian mempunyai guru, penafsiran, pendapat yang mungkin berbeda ....
Apabila seorang muslim mendoakan kebaikan untuk saudaranya (sesama muslim) yang berjauhan, maka malaikat mendoakan (orang yang berdoa) pula"...
Apabila seorang muslim mendoakan kebaikan untuk saudaranya (sesama muslim) yang berjauhan, maka malaikat mendoakan (orang yang berdoa) pula"...
Sesama muslim seyogyanya saling mendoakan agar saudara kita
senantiasa dalam kebaikan dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat
kelak. Orang yang mendoakan saudaranya, mendapat balasan didoakan oleh
malaikat. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Apabila seorang muslim mendoakan kebaikan untuk
saudaranya (sesama muslim) yang berjauhan, maka malaikat mendoakan (orang yang
berdoa) pula: ’Semoga engkau memperoleh kebaikan juga’/’ (HR.
Muslim dari Abu Darda’ ra.)
Nabi Muhammad saw.
sendiri pernah minta didoakan oleh Umar bin Khoththob ra. Diriwayatkan dalam
hadits, suatu ketika Umar ra meminta
izin kepada Rosulullah saw. untuk pergi mengerjakan umroh. Beliau
mengizinkannya seraya bersabda, "Wahai saudaraku, janganlah engkau lupakan
kami dalam doamu.’’ Menanggapi permintaan Nabi saw. tersebut, Umar berkomentar,
“Itu adalah suatu ungkapan yang sangat menggembirakan saya. Dan ungkapan itu
lebih berharga bagiku daripada dunia." (HR. Abu Dawud dan
Tirmizi)
Bagaimana
dengan doa kita untuk teman-teman kita yang sudah meninggal dunia? Diterima
atau ditolakkah?
Percayalah doa kita yang berisi memohonkan
ampunan kepada teman-teman kita yang telah meninggal dunia, isya Allah diterima
oleh Allah SWT. Dasarnya sudah jelas. Bukankah sholat-sholat jenazah atau sholat gaib yang
kita lakukan itu berisi bacaan doa kepada Allah SWT memohonkan ampunan bagi si
mayat. Memohonkan kebaikan buat si mayat baik di alam kuburnya, maupun di
akhirat kelak.
Masih mau bukti? Bukankah kalau kita ziarah kubur, dicontohkan
oleh Muhammad Rosulullah saw. mendoakan para ahli kubur di pemakaman yang kita
kunjungi. Nabi saw. sering mengajarkan kepada para sahabat agar jika berziarah
kubur mengucapkan: "Assalaamu
’alaikum ahlad diyaari minal mukmi- niina wal muslimiina wa innaa insyaa
Allaahu bikum Laachiquun. As Alullaaha lanaa walakumul ’aafiyah (Salam sejahtera semoga
terlimpahkan atas kalian wahai penghuni perkampungan orang- orang mukmin dan
muslim, dan kami insya Allah akan menyusul kalian. Semoga Allah melimpahkan
keselamatan kepada kami dan kepada kalian." (HR. Muslim dari Buroidah ra.)
Jika doa kita
untuk orang lain yang telah meninggal dunia tidak sampai kepadanya, lalu buat
apa Nabi Muhammad Rosulullah saw. mengajarkan bacaan semacam itu kepada para
sahabatnya jika berziarah kubur? Bukankah bacaan di atas berisi doa untuk orang
mati.
Jadi sebaiknya umat Islam harus
bersikap kritis kepada para ustadz-ustadznya. Tanyakan kepada mereka
dalil-dalilnya dan alasan-alasannya jika mereka mengeluarkan ceramah yang
bertentangan dengan hadits yang sudah dijadikan kebiasaan oleh ulama terdahulu
(salaf). Selain bertanya langsung, sebaiknya saudara juga menyempatkan diri
membaca buku-buku tentang ajaran Islam, terutama terjemahan Al-Qur’an dan
hadits-hadits yang shohih. Agar saudara tidak hanya ikut-ikutan, namun juga
menjadi filter.
Sumber :
Doa Pelindung Diri
iseng-iseng searching di google.. eh dpt doa bagus banget... langsung ja disimpan takut lupa...soalnya blum hafal.. Mari Mulai Menghafal....
بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِيْ الأَرْضِ وَلاَ فِيْ السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Maksudnya : Dengan Nama Allah yang dengan namaNya tidak akan memberi mudharat apa pun yang ada di bumi dan di langit dan Dialah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Riwayat Tirmidzi & Abu Daud)
Dalam Sunan at-Tirmidzi dikatakan: "Sesiapa yang pada waktu pagi dan petang membaca doa ini sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan ditimpa keburukan pada hari itu.
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ الله التَّامَّات مِنْ شَرِّ مَا خَلَق
Maksudnya : Aku berlindung dengan kalimah-kalimah Allah yang sempurna daripada keburukan makhluk. (Riwayat Muslim)
Perawi hadis ini berkata: Aku mendengar Rasullah s.a.w bersabda: "Sesiapa yang membaca doa ini sebanyak tiga kali pada satu malam, maka ia tidak akan ditimpa keburukan pada malam itu." Pada satu malam, perawi hadis ini disengat kala jengking. Kemudian orang bertanya kepadanya:"Mana hadis yang kamu riwayatkan dahulu kepada kami, sedang kamu sekarang (ditimpa keburukan yang serupa) disengat kalajengking?" Ia menjawab:"Demi Zat yang tidak ada Tuhan selain Allah, aku lupa membacakan doa itu pada malam ini"
Read more: http://cahayamukmin.blogspot.com/2008/06/doa-pelindung-diri.html#ixzz2RGiU885C
Kamis, 18 April 2013
Langganan:
Postingan (Atom)